MELAYANI SEPENUH HATI

Category Archives: Berita

Berkunjung Ke Lombok Epicentrum Mall Selain Belanja Juga dapat Informasi Tentang Kesehatan

Lombok Epicentrum Mall (LEM) yang merupakan salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Kota Mataram bahkan di Nusa Tenggara barat menjadi salah satu sasaran yang tepat sebagai tempat untuk melakukan Promosi atau penyebarluasan Informasi tentang Kesehatan. Peluang ini telah dimanfaatkan dengan menjalin kerja sama dengan pihak pimpinan Managemen LEM dengan telah terealisasinya MOU antara kedua belah pihak (Dikes Kota Mataram dan LEM). Sehari rata-rata kunjungan ke Mall ini bisa mencapai 10.000 orang, jika 10 % saja dari pengunjung Mall ini membaca dan mendengarkan tentang Informasi Kesehatan yang  disampaikan melalui poster maupun penyampain melalui media elektronik seperti run teks maupun pengeras suara  diperkirakan akan cukup memberikan dampak terhadap pengetahuan dan perubahan prilaku masyarakat untuk menuju cara hidup yang lebih sehat.

PEMBENTUKAN KELOMPOK SWABANTU PROGRAM KESEHATAN JIWA DI PUSKESMAS CAKRANEGARA

Gangguan jiwa menurut Townsend (2005) adalah respon maladaptive terhadap setressor dari lingkungan eksternal dan internal, dibuktikan melalui pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma local atau budaya setempat, dan mengganggu fungsi-fungsi sosial, pekerjaan dan/atau fisik. Berdasarkan hal tersebut, terjadinya gangguan jiwa tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tetapai banyak factor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, yaitu faktor predisposisi, presipitasi sumber koping dan mekanisme koping.

ACARA OUTBOND DAN PENGARAHAN DARI NASASUMBER PADA PENDERITA GANGGUAN JIWA

Belum optimalnya upaya Puskesmas dalam mengatasi gangguan jiwa di masyarakat akan menyebabkan semakin kompleknya masalah kesehatan jiwa yang ada di masyarakat, dan berdampak bukan hanya pada individu, tetapi juga akan berdampak pada keluarga dan masyarakat itu sendiri. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah melakukan terapi pada keluarga yang mengalami gangguan jiwa yang dikenal dengan nama kelompok swabantu atau (self help group).

Kelompok swabantu (self help group) merupakan suatu pendekatan untuk mempertemukan kebutuhan keluarga dan sumber penting untuk keluarga dan penderita gangguan jiwa. Kelompok swabantu (Self help group) merupakan suatu kelompok, dimana tiap anggota kelompok saling berbagi masalah fisik, emosional atau issue tertentu, dan bertujuan untuk mengembangkan empathy diantara sesama anggota dan membantu keluarga mengatasi permasalahannya yang diselesaikan bersama dalam kelompok.

Beberapa penelitan telah membuktikan manfaat yang dirasakan dengan adanya kelompok swabantu ini, diantaranya 84% masyarakat mengatakan dapat meningkatkan pengetahuan tentang gangguan jiwa, 73% penderita merasakan berkurangnya perasaan kesendirian, dan lain-lain.

Bila dilihat dari hasil penelitian tersebut, dipandang perlu dibentuk kelompok swabantu di masing-masing Puskesmas yang ada di kota Mataram. Sehingga diharapkan penanganan penderita gangguan jiwa dapat dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan anggota keluarga.

Tujuan Umum kegiatan ini adalah Terbentuknya kelompok swabantu di tiap-tiap Puskesmas dalam membantu penanganan penderita gangguan jiwa. Sedangkan tujuan khususnya adalah :

  1. Meningkatnya kemampuan keluarga dan kader dalam berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa.
  2. Meningkatnya empati keluarga dan lingkungan dengan penderita gangguan jiwa.
  3. Menurunkan angka drop out penderita dalam melakukan therapy.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 (tiga ) hari yaitu tangal 18 s/d 20 Oktober 2016 diikuti oleh  26 orang, yang terdiri dari seorang penderita yang didampingi keluarga beserta kader kesehatan jiwa.

Narasumber kegiatan ini adalah dari RSJ Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Dinas Kesehatan Kota Mataram dengan materi sebagai berikut :

  1. Peran Keluarga dalam kelompok swabantu oleh RSJ Mutiara Sukma Provinsi NTB.
  2. Peran Kader dalam kelompok swabantu oleh Kepala seksi Yankesdas dan Rujukan Dikes Kota Mataram

Pembentukan Kelompok swabantu ini akan dilaksanakan pada semua wilayah kerja Puskesma seKota Mataram dan pada saat ini telah terbentuk 10 kelompok dari sebelas Puskesmas yang ada. Jadi tinggal 1 Puskesmas yang belum memiliki kelompok swabantu yakini Puskesmas Tanjung Karang . Kedepan Kelompok ini akan terus dikembangkan dan dimonitoring tingkat perkembangannya serta dampak positifnya bagi penderita kesehatan jiwa yang selama ini telah banyak memberi manfaat pada penderita maupun keluarganya untu kesembuhan dan rehabilitasi terhadap penderita.

Semoga bermanfaat dalam menurunkan angka ODGJ di Kota Mataram !!!

 

Kerjasama Dinas Kesehatan Kota Mataram dengan Manajemen Lombok Epicentrum Mall (LEM) dalam Kegiatan Promosi Kesehatan

PEMBENTUKAN KELOMPOK SWABANTU BAGI PENDERITA GANGGUAN JIWA DI PUSKESMAS KARANG PULE

Foto Bersama Acara Pembentukan Kelompok Swabantu

Foto Bersama Acara Pembentukan Kelompok Swabantu

Gangguan jiwa menurut Townsend (2005) adalah respon maladaptive terhadap setressor dari lingkungan eksternal dan internal, dibuktikan melalui pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma local atau budaya setempat, dan mengganggu fungsi-fungsi sosial, pekerjaan dan/atau fisik. Berdasarkan hal tersebut, terjadinya gangguan jiwa tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tetapai banyak factor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, yaitu faktor predisposisi, presipitasi sumber koping dan mekanisme koping.

Belum optimalnya upaya Puskesmas dalam mengatasi gangguan jiwa di masyarakat akan menyebabkan semakin kompleknya masalah kesehatan jiwa yang ada di masyarakat, dan berdampak bukan hanya pada individu, tetapi juga akan berdampak pada keluarga dan masyarakat itu sendiri. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah melakukan terapi pada keluarga yang mengalami gangguan jiwa yang dikenal dengan nama kelompok swabantu atau (self help group).

Kelompok swabantu (self help group) merupakan suatu pendekatan untuk mempertemukan kebutuhan keluarga dan sumber penting untuk keluarga dan penderita gangguan jiwa. Kelompok swabantu (Self help group) merupakan suatu kelompok, dimana tiap anggota kelompok saling berbagi masalah fisik, emosional atau issue tertentu, dan bertujuan untuk mengembangkan empathy diantara sesama anggota dan membantu keluarga mengatasi permasalahannya yang diselesaikan bersama dalam kelompok.swabantukrpule2

Beberapa penelitan telah membuktikan manfaat yang dirasakan dengan adanya kelompok swabantu ini, diantaranya 84% masyarakat mengatakan dapat meningkatkan pengetahuan tentang gangguan jiwa, 73% penderita merasakan berkurangnya perasaan kesendirian, dan lain-lain.

Bila dilihat dari hasil penelitian tersebut, dipandang perlu dibentuk kelompok swabantu di masing-masing Puskesmas yang ada di kota Mataram. Sehingga diharapkan penanganan penderita gangguan jiwa dapat dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan anggota keluarga.

Tujuan Umum darai kegiatan ini adalah agar terbentuk kelompok swabantu di tiap-tiap Puskesmas dalam membantu penanganan penderita gangguan jiwa.

Sedangkan Tujuan Khusus

  1. Meningkatnya kemampuan keluarga dan kader dalam berkomunikasi dengan penderita gannguan jiwa.
  2. Meningkatnya empati keluarga dan lingkungan dengan penderita gangguan jiwa.
  3. Menurunkan angka drop out penderita dalam melakukan therapy.

Kegiatan dilaksanakan selama 3 (tiga ) hari yaitu  sejak tanggal 1 s/d 3 Agustus 2016 dengan jumlah kegiatan dalam satu kelompok terdiri dari 26 orang.

swabantukrpule1Narasumber kegiatan ini adalah dari RSJ Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Dinas Kesehatan Kota Mataram dengan materi sebagai berikut :

  1. Peran Keluarga dalam kelompok swabantu oleh RSJ Mutiara Sukma Provinsi NTB.
  2. Peran Kader dalam kelompok swabantu oleh Kepala seksi Yankesdas dan Rujukan Dikes Kota Mataram

PEMILIHAN KADER LESTARI TINGKAT KOTA MATARAM TAHUN 2016

Posyandu merupakan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) yang paling berkembang dan paling besar kontribusinya dalam pembangunan kesehatan khususnya dalam bidang peran serta masyarakat.

Kader sebagai tulang punggung posyandu merupakan sumber daya yang sangat menentukan tingkat kemandirian posyandu, karena dalam indikator tingkat kemandirian posyandu jumlah kader merupakan indikator utama yang menentukan strata posyandu tersebut.

Dalam perkembangan posyandu selama ini pasang surut jumlah kader selalu saja terjadi dari tahun ke tahun, namun pelaksanaan posyandu tetap saja dapat berjalan setiap bulannya.

Untuk menjaga kelestarian kader posyandu berbagai upaya telah dilaksanakan oleh berbagai sektor namun masih tertuju kepada peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader saja. Dalam rangka mempertahankan kelestarian kader posyandu, Dinas Kesehatan Kota Mataram perlu mengadakan Pemilihan Kader Lestari Tingkat Kota Mataram

Tujuan Umum : Mempertahankan kelestarian kader dalam pengelolaan posyandu melalui Pemilihan Kader Lestari Tingkat Kota Mataram.

Tujuan Khusus :

  1. Meningkatkan motivasi kader posyandu dalam pengelolaan posyandu
  2. Meningkatkan penghargaan kepada kader yang telah melaksanakan tugas cukup lama.
  3. Menurunkan angka drop out kader posyandu

Pemilihan Kader Lestari Tingkat Kota Mataram dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 28  Juli 2016, bertempat di Gedung Sekretariat TP-PKK Kota  Mataram  mulai Pukul 09.00 WITA sampai selesai.

Peserta Pemilihan Kader Lestari Tingkat Kota Mataram sebanyak 22 Orang yang terdiri dari :

Puskesmas Cakranegara                : 2 Orang kader

Puskesmas Mataram                      : 2 Orang kader

Puskesmas Dasan Cermen            : 2 Orang kader

Puskesmas Kr. Taliwang               : 2 Orang  kader

Puskesmas Pagesangan                 : 2 Orang kader

Puskesmas Kr. Pule                       : 2 Orang kader

Puskesmas Tj. Karang                   : 2 Orang kader

Puskesmas Ampenan                    : 2 Orang kader

Puskesmas Selaparang                  : 2 Orang kader

Puskesmas Dasan Agung              : 2 Orang kader

Puskesmas Pejeruk                        : 2 Orang kader

Panitia Penyelenggara dan Tim Juri terdiri dari anggota Tim Pokjanal Posyandu Tingkat Kota Mataram yang ditetapkan dengan keputusan Walikota Mataram Nomor : 551/IV/2016

Juri Pemilihan Kader Lestari ini sebanyak 5 orang yang terdiri dari :

  • BPM Kota Mataram : 1 Orang
  • PKK Kota Mataram : 1 Orang
  • BP2KB Kota Mataram : 1 Orang
  • Bidang Promkes Dikes Kota Mataram          : 1 Orang
  • Bidang Bina Kesga Dikes Kota Mataram     : 1 Orang

HASIL KEGIATAN

Penilaian Pemilihan Kader Lestari Tingkat Kota Mataram ini dilakukan dalam beberapa tahap, meliputi ;

  1. Test tulis untuk mengetahui pengetahuan kader
  2. Pengisian biodata guna mengetahui masa kerja, pelatihan yang pernah diikuti dan kegiatan kemasyarakatan.
  1. Praktek penyuluhan untuk menilai kemampuan komunikasi dan penguasaan

         Setelah dilakukan penilaian oleh Tim juri pemilihan kader Lestari Tingkat Kota Mataram Tahun 2016  maka ditetapkan nama-nama pemenang sebagai berikut:

No NAMA KADER PUSKESMAS TOTAL NILAI RANGKING
1 NURAINI AMPENAN 82,35 I
2 ROKHIYANA DASAN AGUNG 81,7 II
3 CANDRAWATI SELAPARANG 80,05 III
4 HALIMAH DASAN CERMEN 78,35 HARAPAN I
5 HAFADAH TANJUNG KARANG 76,7 HARAPAN II
6 HANURAMURNI DASAN AGUNG 75,1 HARAPAN III
7 CHINDRA ANISA KARANG PULE 74,64
8 KHOSIAH PAGESANGAN 72,1
9 MARIANA TANJUNG KARANG 71,2
10 YUNI MARIANA SELAPARANG 70,7
11 MALNI PAGESANGAN 70,6
12 ZAETUN KARANG PULE 67,65
13 MARKISAH AMPENAN 66,95
14 FITRIA RHAMADHAN PEJERUK 66,25
No NAMA KADER PUSKESMAS TOTAL NILAI RANGKING
15 SAPIRAH MATARAM 66,25
16 ZULFAIYAH DASAN CERMEN 66,1
17 NI WAYAN WENDRI KARANG TALIWANG 65,6
18 MARIANI CAKRANEGARA 64,8
19 FAUZIAH MATARAM 64,3
20 NI KETUT EKA BUDIASTINI CAKRANEGARA 62,85
21 NURHAINI KARANG TALIWANG 58
22 ASMAINI PEJERUK 41,75

Demikianlah hasil peliputan pelaksanaan Lomba Pemilihan Kader Lestari Tingkat Kota Mataram Tahun 2016 ini , semoga menjadi motivasi bagi kader yang lain untuk meningkatkan kwalitas pelayanan dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

 

PELATIHAN TATALAKSANA KASUS KEKERASAN TERHADAP ANAK TINGKAT KOTA MATARAM TAHUN 2016

Kabid Kesga Muhammad Carnoto, SKM sedang menyampaikan materi

Kabid Kesga Muhammad Carnoto, SKM sedang menyampaikan materi

UUD 1945 Pasal 28B Ayat 2 menyatakan bahwa setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, selanjutnya Pasal 28H Ayat 1 menegaskan bahwasetiap anak berhak untuk memperoleh pelayanan kesehatan”. Kedua pernyataan tersebut menunjukkan komitmen Bangsa Indonesia untuk mengutamakan pembangunan dan perlindungan anak guna menjamin pertumbuhan dan perkembangan optimal.

Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Undang Undang Republik Indonesia No.23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak (UUPA) mendefinisikan  anak sebagai seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih di dalam kandungan (pasal 1). Sejalan dengan UUD 1945, UUPA juga menegaskan bahwa setiap anak berhak untuk hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (pasal 4) dan bahwa setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial (pasal8)

Petugas kesehatan sering kali merupakan orang pertama yang berhadapan dengan kasus KtA, karena korban biasanya diantar ke sarana pelayanan kesehatan seperti Puskesmas dan  Rumah Sakit akibat masalah kesehatan yang dialami. Tanpa pengetahuan penanganan medis KtA, rujukan medikolegal dan psikososial yang harus dilakukan, petugas kesehatan cenderung memberikan pengobatan saja sehingga kasus KtA  tidak ditangani secara komprehensif.

Melihat pentingnya peran tenaga kesehatan dan sesuai amanah Undang Undang Nomor 35 tahun 2014 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang mengharuskan pemerintah menyediakan fasilitas dan menyelenggarakan upaya kesehatan yang komprehensif bagi anak, maka Kementerian Kesehatan telah mengembangkan Puskesmas melakukan tatalaksana kasus KtA dan Pusat Pelayanan Terpadu (PPT)/ Pusat Krisis Terpadu (PKT) di Rumah Sakit sebagai rujukannya.

Dalam rangka pengembangan Puskesmas dan Rumah Sakit melakukan tatalaksana kasus KtA, perlu ditingkatkan kemampuan tenaga kesehatan di Puskesmas untuk penanganan kasus KtA secara komprehensif. Sehingga, perlu dilakukan pelatihan  Tatalaksana KtA di tingkat Kota Mataram. Pada tahun 2016, akan dilatih 20 orang pesertadari 11 puskesmas.

Tujuan Umum dari pelatihan ini nantinya diharapkan kepada peserta stelah mengikuti Pelatihan ini , peserta mampu melakukan Tatalaksana Kasus Kekerasan terhadap Anak.

Sedangkan tujuan khususnya adalah agar peserta mampu :

  1. Menjelaskan Pengertian (Kekerasan dan Penelantaran Anak)
  2. Menjelaskan sistim perlindungan anak dan peran tenaga kesehatan
  3. Menjelaskan tumbuh kembang anak
  4. Menjelaskan Faktor Risiko dan Dampak KtA
  5. Melakukan wawancara yang baik pada kasus KtA
  6. Menjelaskan pemeriksaan fisik dan penunjang (Pemeriksaan Medikolegal I)
  7. Menjelaskan pemeriksaan fisik pada kasus kekerasan seksual (Pemeriksaan Medikolegal II)
  8. Melakukan Interpretasi Pemeriksaan Medikolegal, Rekam Medis, dan Visum et Repertum.
  9. Mampu menjelaskan tatalaksana dan alur rujukan medis psikososial
  10. Menjelaskan asuhan keperawatan dalam tatalaksana kasus KtA
  11. Melaksanakan proses pencatatan dan pelaporan kasus KtA

Peserta Pelatihan

  1. Tenaga Kesehatan yang bertugas di Puskesmas (PNS)
  2. Tenaga kesehatan yang menangani kasus kekerasan terhadap anak yang terdiri dari :, Dokter, Perawat dan Bidan yang bertugas di puskesmas
  3. Belum pernah mengikuti Pelatihan Tatalaksana Kasus Kekerasan Terhadap Anak (KtA)

Pelatihandilaksanakan di Nirwana Water Park, Jl. Jendral Sudirman No. 99 Gegutu pada hariselasa tanggal 1 – 3 Juni  2016

Fasilitator Pelatih dari Pelatihan ini berasal dari : Dinas Kesehatan, Balai Pelatihan Tenaga Kesehatan (BPTK) Mataram dan dari Rumah Sakit Umum Propinsi NTB.

Proses Pembelajaran dalam pelatihan dilaksanakan selama 3 hari dengan jumlah jam pelajaran 34 JPL, Pembelajaran dilaksanakan dengan metode: ceramah tanya jawab, curah pendapat, penugasan diskusi kelompok, pengisian format-format, bermain peran dan presentasi.

Pelatihan ini dilaksanakan selama 3 (hari) dengan rincian kegiatansebaga iberikut

  1. HariPertama
  • Registrasipeserta
  • Pre test
  • Pembukaanolehkepalabidangpembinaankesehatankeluarga
  • BLC
  • PenyampaianMateriKebijakanPengembanganPuskesmasmampuKtA
  • PenyampaianMateritentangPengertiankekrasandanpenelantarananak, Sistemperlindungananakdantatalaksanadanalurrujukanmedispsikosial.
  1. HariKedua
  • PenyampaianmateritentangAspekHukumdanEtikaKtA
  • PenyampaianMateritentangtumbuhkembangdanFaktorresikokekerasanpadaanak
  • PenyampaianmateritentangPemerikksaanmedikolegaldaninterpretasipemeriksaanpemeriksaan
  1. HariKetiga
  • PenyampaianmateriTeknikwawancara
  • PenyampainmateriAsuhanKeperawatan
  • PenyampaianMateriPencatatandanpelaporan
  • Pre test
  • RTL
  • Evaluasikegiatan
  • Penutupan

LBSI Tingkat Kota Mataram Dibuka Ketua TP PKK Suryani Ahyar Abduh

LBSI Tingkat Kota Mataram Dibuka Ketua TP PKK Suryani Ahyar AbduhMATARAM – Lomba Balita Sejahtera Indonesia (LBSI) Tingkat Kota Mataram dibuka pada Rabu (25/05/16) di Aula lantai 2 Asrama Haji Provinsi NTB oleh Ketua Tim Penggerak (TP) PKK Kota Mataram Hj. Suryani Ahyar Abduh didampingi oleh Kepala Dinas kesehatan Kota Mataram H. Usman Hadi.

Turut hadir pada pembukaan lomba yang diikuti oleh 22 peserta usia bayi dan balita yang merupakan pemenang LBSI di tingkat Puskesmas ini jajaran Dinas Kesehatan Kota Mataram berikut para Kepala Puskesmas se-Kota Mataram, Dewan Juri, dan para orangtua yang mendampingi peserta lomba.

Dikatakan oleh kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram H. Usman Hadi, Saat ini di Kota Mataram masih ditemukan sepuluh kasus gizi buruk. Kesemuanya saat ini berada dalam pantauan dan pengawasan dinas yang dipimpinnya, serta dalam perawatan dalam rangka memulihkan status gizinya. Diharapkannya lomba ini dapat memberi motivasi bagi masyarakat untuk memperhatikan tumbuh kembang bayi dan balitanya lebih baik lagi. “Semoga dengan lomba ini dapat meningkatkan kemampuan orangtua supaya bayi dan balitanya tetap sehat”, harapnya.

Dilanjutkan Usman, lomba ini memiliki tujuan besar untuk meningkatkan kualitas manusia Indonesia melalui pembinaan serta pengembangan kesehatan dan kesejahteraan balita sejak usia dini, sehingga tercipta proses tumbuh kembang secara optimal. Mengingat masa balita merupakan masa emas pertumbuhan bayi dan balita. Peserta lomba terbagi dalam dua kategori usia, yaitu kelompok usia 6-24 bulan dan usia 2-5 tahun dengan masing-masing diikuti 11 orang peserta. Sedangkan Dewan Juri sebanyak delapan orang yang terdiri dari dokter umum, dokter gigi, psikolog, ahli gizi, bidan, dan perwakilan dari PKK Kota Mataram.

Dalam sambutannya sesaat sebelum membuka lomba secara resmi, Ketua TP PKK Hj. Suryani Ahyar Abduh mengatakan bahwa perhatian pada tumbuh kembang bayi dan balita sangat penting agar mereka dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dan sempurna. Karena bayi dan balita yang sehat akan bertumbuh menjadi remaja yang sehat, dan remaja yang sehat akan berkembang menjadi manusia dewasa yang sehat pula. Pada lomba ini, Hj. Suryani yang akrab disapa Ummi ini juga berpesan agar Dewan Juri dapat memberikan penilaian secara obyektif.

Sementara bagi orangtua peserta yang hadir, istri Walikota Mataram ini secara khusus menyampaikan pesan bahwa kemenangan bukan merupakan tujuan akhir dari lomba. Sebaliknya kekalahan juga bukan sebuah kegagalan, karena semua peserta yang telah sampai pada lomba di tingkat Kota Mataram ini merupakan bayi dan balita yang terpilih sebagai yang terbaik di Puskesmas masing-masing. “Jangan kecil hati, dapat ikut serta ini juga sudah luar biasa”, ujarnya.

(humas mataram/editor guswan)

PELATIHAN KESEHATAN JIWA MASYARAKAT (CMHN) BAGI KADER PUSKESMAS

kader jiwaSejak tahun 2002, paradigma kesehatan Indonesia berfokus pada peningkatan dan pencegahan penyakit dengan memberdayakan potensi yang ada di masyarakat secara optimal agar masyarakat lebih mandiri dalam menjaga kesehatannya. Demikian juga dengan kemampuan dan pengetahuan kader kesehatan yang ada di Puskesmas, sangat perlu ditingkatkan kapasitasnya dalam memberikan layanan kepada masyarakat.

Konsep keperawatan kesehatan jiwa masyarakat adalah konsep pendekatan kesehatan jiwa yang berbasis masyarakat, satu upaya mengoptimalkan upaya kesehatan jiwa dengan mempertimbangkan berbagai keterbatasan yang ada. Upaya kesehatan jiwa masyarakat dilaksanakan dengan prinsip holistic, komprehensip, paripurna dan berkesinambungan untuk seluruh usia dan berbagai masalah kesehatan jiwa.

Kader kesehatan jiwa berperan penting di masyarakat dalam menemukan kasus baru ataupun yang tidak dilaporkan oleh keluarga penderita, sehingga kasus penderita gangguan jiwa segera dapat diberikan tindakan yang memadai. Sehingga dipandang perlu untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader kesehatan jiwa melalui pelatihan-pelatihan yang menunjang dalam pelaksanaan tugas kader di lapanagan.fotobersama kaderjiwa

Tujuan  umum dari pelatihan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan kader puskesmas tentang kesehatan jiwa sehingga mampu melakukan penemuan kasus dini kasus gangguan jiwa.

Sedangkan Tujuan Khusus

  1. Semua puskesmas mempunyai kader kesehatan jiwa.
  2. Kader mampu mendeteksi dini kasus gangguan jiwa.
  3. Kader mampu bekerjasama dengan petugas Puskesmas.
  4. Waktu pelaksanaan

kaderjiwa1Kegiatan pelatihan dilaksanakan selama 4 (empat ) hari yaitu hari Rabu sampai dengan hari Sabtu tanggal 20 sampai dengan 23 April 2016 di Hotel Limoes Jalan Bungkarno Mataram yang diikuti oleh 22 orang kader yang berasal dari wilayah Puskesmas se Kota Mataram masing-masing 2 orang.

Narasumber/pemateri dalam kegiatan ini dari :

  1. Kebijakan Program Kesehatan Jiwa di Kota Mataram oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram.
  2. Pengenalan tentang gejala gangguan jiwa oleh Ns. Dian Istiana, Sp. Kep. Jiwa (Dosen Stikes Yarsi Mataram)
  3. Perawatan penderita gangguan jiwa untuk Kader kesehatan jiwa oleh Ns. Muhammad Sunarto, Sp.Kep.Jiwa (Perawat RSJ Mutiara Sukma. Mataram).

Pelaksanaan pelatihan kader berjalan dengan lancer dan diharapkan setelah pelatihan, kader dapat membantu pelaksanaan kegatan kesehatan jiwa di puskesmas.

 

Kota Mataram Kibarkan Perang Melawan Jentik Nyamuk DBD

Kota Mataram Kibarkan Perang Melawan Jentik Nyamuk DBDMATARAM – Tingginya angka penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Mataram ditambah dengan telah jatuhnya lima orang korban jiwa akibat penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk pembawa virus DBD menjadi latar belakang ditetapkannya hari Jumat 15 April 2016 sebagai hari dimulainya perang melawan jentik-jentik nyamuk diseluruh penjuru Kota Mataram.

Hal tersebut tercetus saat pertemuan antara Camat-Lurah se-Kota Mataram dengan Dinas Kesehatan Kota Mataram yang dipimpin oleh Asisten II Setda Kota mataram H. Effendi Eko Saswito di Ruang Kenari Kantor Walikota Mataram pada kamis (14/04/16).

Dikatakan Asisten II Setda Kota Mataram H. Effendi Eko Saswito, penyakit DBD telah menjadi fenomena tersendiri di Kota Mataram bahkan di Nusa Tenggara Barat karena faktor cuaca yang kurang menguntungkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi dan mencegah perkembangannya, namun belum cukup membuat angka penderita DBD menurun bahkan cenderung meningkat dan memakan lima orang korban jiwa. Sehingga pihak Pemerintah Kota Mataram menggagas pertemuan dadakan dengan mengundang semua Camat-Lurah untuk bekerjasama mencegah perkembangan penyakit berbahaya tersebut.

Kepada seluruh Camat dan Lurah yang hadir, Eko menyampaikan komitmen Walikota dan Wakil Walikota Mataram dalam memberantas DBD sekaligus meminta para camat dan Lurah untuk proaktif, segera mengambil langkah mencegah penyebaran penyakit DBD secara lebih intensif. Mengerahkan seluruh upaya dan melibatkan pula masyarakat untuk ikut bergotong-royong dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Hal tersebut sangat penting, agar rantai penularan penyakit mematikan ini dapat segera terputus. “Mulai Jumat, 15 April 2016, kita nyatakan perang terhadap jentik-jentik nyamuk. Setiap hari tanpa berhenti, sampai DBD dapat diberantas dari Kota Mataram”, tegasnya.

Seperti dijelaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram H. Usman Hadi, terdapat siklus lima tahunan untuk kasus DBD yang tergolong tinggi di Kota Mataram. Pada tahun 2010 kasus DBD sangat tinggi, namun tampaknya siklus berubah karena tahun 2016 ini justru banyak sekali warga Kota Mataram yang terjangkit virus DBD. Dari catatan yang dimiliki dinas yang dipimpinnya menurut Usman, terjadi sebanyak 412 kasus yang dilaporkan sepanjang tahun 2016 dan yang benar-benar dinyatakan sebagai DBD sejumlah 283 orang. Dari seluruh wilayah di Kota Mataram, hanya tiga kelurahan yang sampai saat ini belum muncul kasus DBD. Yaitu Kelurahan Ampenan Utara, Kelurahan Banjar, dan Klurahan Bintaro.

Dinas Kesehatan Kota Mataram lanjut Usman, sejak awal telah berupaya untuk memetakan kondisi real DBD di Kota Mataram. Dari laporan yang masuk, diketahui bahwa jumlah penderita tertinggi berada di rentang usia sekolah. Dan pemeriksaan jentik-jentik nyamuk di beberapa sekolah pun dinyatakan positif, sehingga pihaknya memutuskan untuk selain fogging di lingkungan-lingkungan yang terjadi kasus DBD, juga di semua sekolah yang ada di Kota Mataram pada setiap hari libur sekolah. “Semua sekolah sudah fogging. Dan mulai 9 Maret 2016 kami lakukan fogging lingkungan tidak hanya di lingkungan yang terjangkit kasus DBD tapi juga di lingkungan sekitarnya”, terangnya.

Meski telah dilakukan fogging diingatkan Usman, tidak berarti wilayah bersangkutan bebas DBD. Karena fogging hanya salah satu dari banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi potensi penularan dengan cara membunuh nyamuk dewasa. Yang tidak kalah penting adalah PSN atau Pemberantasan Sarang Nyamuk yang akan ikut memusnahkan pula jentik-jentik nyamuk pembawa virus DBD. Dengan kegiatan PSN secara massal melibatkan semua pihak disemua wilayah, diharapkan kasus DBD di Kota Mataram dapat menurun secara drastis.

Sumber: Mataram News
(ufi-humas/editor guswan)

Kenalkan Ovitrap, Yakin Bisa Jebak dan Bunuh Jentik Nyamuk. 

OvitrapSelasa, 22 Maret 2016

Puskesmas Karang Pule punya gaya baru dan unik untuk membasmi nyamuk DBD. Dalam Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) yang dilaksanakan Minggu (20/3), pihak puskesmas memperkenalkan Ovitrap kepada warga. Apa itu?

***

MATAHARI mulai menampakkan diri ketika warga Perumahan Griya Pagutan melakukan PSN minggu (20/3) pagi kemarin (21/3). Sekitar pukul 07.00 Wita, warga terlihat beramai-ramai membawa sapu, sekop, cangkul dan beberapa alat lainnya untuk membersihkan lingkungan rumahnya.

Kegiatan ini sebagai tindak lanjut dari PSN massal di seluruh wilayah Kota Mataram. Pagutan Barat menjadi salah satu kawasan yang disisir. Sebab, korban DBD di wilayah ini sudah menembus sepuluh orang.

Dalam PSN ini, pihak Puskesmas Karang Pule ikut terlibat. Selain melakukan PSN seperti biasanya dengan 3M plus, yakni menguras, mengubur dan menutup  serta menghimbau warga menggunakan obat anti nyamuk, pihak puskesmas juga mensosialisasikan PSN dengan menggunakan ovitrap, atau jebakan jentik DBD.

“Ini adalah salah satu metode untuk pemberantasan DBD dengan membunuh jentik larva nyamuknya,” kata Raudatul Ilmi, petugas Promosi Kesehatan Puskesmas Karang Pule.

Dijelaskan, sebenarnya metode ini sudah lama disosialisasikan oleh Dinas Kesehatan Kota Mataram melalui puskesmas. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang belum tahu akan metode ini.

Untuk itulah, dalam PSN yang digelar kemarin, pihak puskesmas memberikan pemahanam bagaimana membuat jebakan terhadap jentik nyamuk penyebab DBD ini.

Pembuatan ovitrap ini sangat sederhana. Cukup memanfaatkan bekas botol minuman plastik, kain kasa dan lakban. Botol plastik dipotong menjadi dua bagian. Kemudian kepala botol ditutup kain kasa dan dihadapkan terbalik ke dalam sisa potongan botol.

Semua bagian botol diberi cat warna hitam yang kemudian diisi larutan air gula dicampur ragi. Ini untuk memancing agar nyamuk DBD bisa terpancing dan bertelur di dalam jebakan ini.

“Nyamuk itu suka larutan ini dan sangat senang dengan warna gelap. Makanya kita cat hitam dan isi dengan air ini,” katanya.

Nantinya, nyamuk DBD akan tertarik untuk bertelur di dalam ovitrap. Namun, jentik yang sudah masuk di dalamanya tidak akan bisa berkembang biak karena tidak bisa keluar dari dalam botol yang sudah ditutup kain kasa.

“Nanti kalau jentiknya sudah banyak, tinggal dibuang airnya ke tanah. Jentiknya pasti akan mati,” jelas Ilmi.

Strategi ovitrap ini dijelaskan pihak Puskesmas Karang Pule sudah diterapkan di Thailand dan ampuh membunuh nyamuk DBD. Sehingga angka DBD di Thailand dikatakan bisa ditekan.

“Air yang terisi dalam ovitrap harus dibuang sebelum seminggu agar jentik tidak berkembang menjadi nyamuk,” terang Kepala Puskesmas Karang Pule dr Indri.

Dalam setiap rumah, minimal teradap satu botol ovitrap. Namun, kembali lagi tergantung luas areal rumah. “Nyamuk DBD ini juga karakteristiknya senang di tempat air bersih. Jadi jangan salah, meskipun airnya bening, belum tentu bebas dari jentik DBD,” lanjut dr Indri.

Sementara itu, Lurah Pagutan Barat Cahaya Samudra menjelaskan langkah PSN yang dilakukan Puskesmas Karang Pule merupakan sinergi yang baik antara pemerintah dan masyarakat dalam upaya meberantas DBD. Ia juga terlihat serius mengikuti sosialisasi pembuatan Ovitrap ini.

“Saya pikir langkah seperti ini sangat baik untuk membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya mencegah DBD daripada hanya sekedar melakukan fogging,” jelasnya. (Hamdani Wathoni/Mataram/r6).

Melayani Sepenuh Hati