MELAYANI SEPENUH HATI

PEMBENTUKAN KELOMPOK SWABANTU PROGRAM KESEHATAN JIWA DI PUSKESMAS CAKRANEGARA

Gangguan jiwa menurut Townsend (2005) adalah respon maladaptive terhadap setressor dari lingkungan eksternal dan internal, dibuktikan melalui pikiran, perasaan dan perilaku yang tidak sesuai dengan norma-norma local atau budaya setempat, dan mengganggu fungsi-fungsi sosial, pekerjaan dan/atau fisik. Berdasarkan hal tersebut, terjadinya gangguan jiwa tidak hanya disebabkan oleh satu faktor saja, tetapai banyak factor yang saling mempengaruhi satu sama lainnya, yaitu faktor predisposisi, presipitasi sumber koping dan mekanisme koping.

ACARA OUTBOND DAN PENGARAHAN DARI NASASUMBER PADA PENDERITA GANGGUAN JIWA

Belum optimalnya upaya Puskesmas dalam mengatasi gangguan jiwa di masyarakat akan menyebabkan semakin kompleknya masalah kesehatan jiwa yang ada di masyarakat, dan berdampak bukan hanya pada individu, tetapi juga akan berdampak pada keluarga dan masyarakat itu sendiri. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengurangi dampak tersebut adalah melakukan terapi pada keluarga yang mengalami gangguan jiwa yang dikenal dengan nama kelompok swabantu atau (self help group).

Kelompok swabantu (self help group) merupakan suatu pendekatan untuk mempertemukan kebutuhan keluarga dan sumber penting untuk keluarga dan penderita gangguan jiwa. Kelompok swabantu (Self help group) merupakan suatu kelompok, dimana tiap anggota kelompok saling berbagi masalah fisik, emosional atau issue tertentu, dan bertujuan untuk mengembangkan empathy diantara sesama anggota dan membantu keluarga mengatasi permasalahannya yang diselesaikan bersama dalam kelompok.

Beberapa penelitan telah membuktikan manfaat yang dirasakan dengan adanya kelompok swabantu ini, diantaranya 84% masyarakat mengatakan dapat meningkatkan pengetahuan tentang gangguan jiwa, 73% penderita merasakan berkurangnya perasaan kesendirian, dan lain-lain.

Bila dilihat dari hasil penelitian tersebut, dipandang perlu dibentuk kelompok swabantu di masing-masing Puskesmas yang ada di kota Mataram. Sehingga diharapkan penanganan penderita gangguan jiwa dapat dilakukan secara menyeluruh dan melibatkan anggota keluarga.

Tujuan Umum kegiatan ini adalah Terbentuknya kelompok swabantu di tiap-tiap Puskesmas dalam membantu penanganan penderita gangguan jiwa. Sedangkan tujuan khususnya adalah :

  1. Meningkatnya kemampuan keluarga dan kader dalam berkomunikasi dengan penderita gangguan jiwa.
  2. Meningkatnya empati keluarga dan lingkungan dengan penderita gangguan jiwa.
  3. Menurunkan angka drop out penderita dalam melakukan therapy.

Kegiatan ini dilaksanakan selama 3 (tiga ) hari yaitu tangal 18 s/d 20 Oktober 2016 diikuti oleh  26 orang, yang terdiri dari seorang penderita yang didampingi keluarga beserta kader kesehatan jiwa.

Narasumber kegiatan ini adalah dari RSJ Mutiara Sukma Provinsi Nusa Tenggara Barat dan Dinas Kesehatan Kota Mataram dengan materi sebagai berikut :

  1. Peran Keluarga dalam kelompok swabantu oleh RSJ Mutiara Sukma Provinsi NTB.
  2. Peran Kader dalam kelompok swabantu oleh Kepala seksi Yankesdas dan Rujukan Dikes Kota Mataram

Pembentukan Kelompok swabantu ini akan dilaksanakan pada semua wilayah kerja Puskesma seKota Mataram dan pada saat ini telah terbentuk 10 kelompok dari sebelas Puskesmas yang ada. Jadi tinggal 1 Puskesmas yang belum memiliki kelompok swabantu yakini Puskesmas Tanjung Karang . Kedepan Kelompok ini akan terus dikembangkan dan dimonitoring tingkat perkembangannya serta dampak positifnya bagi penderita kesehatan jiwa yang selama ini telah banyak memberi manfaat pada penderita maupun keluarganya untu kesembuhan dan rehabilitasi terhadap penderita.

Semoga bermanfaat dalam menurunkan angka ODGJ di Kota Mataram !!!

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Melayani Sepenuh Hati