Kota Mataram Kibarkan Perang Melawan Jentik Nyamuk DBD

Kota Mataram Kibarkan Perang Melawan Jentik Nyamuk DBDMATARAM – Tingginya angka penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kota Mataram ditambah dengan telah jatuhnya lima orang korban jiwa akibat penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk pembawa virus DBD menjadi latar belakang ditetapkannya hari Jumat 15 April 2016 sebagai hari dimulainya perang melawan jentik-jentik nyamuk diseluruh penjuru Kota Mataram.

Hal tersebut tercetus saat pertemuan antara Camat-Lurah se-Kota Mataram dengan Dinas Kesehatan Kota Mataram yang dipimpin oleh Asisten II Setda Kota mataram H. Effendi Eko Saswito di Ruang Kenari Kantor Walikota Mataram pada kamis (14/04/16).

Dikatakan Asisten II Setda Kota Mataram H. Effendi Eko Saswito, penyakit DBD telah menjadi fenomena tersendiri di Kota Mataram bahkan di Nusa Tenggara Barat karena faktor cuaca yang kurang menguntungkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk menanggulangi dan mencegah perkembangannya, namun belum cukup membuat angka penderita DBD menurun bahkan cenderung meningkat dan memakan lima orang korban jiwa. Sehingga pihak Pemerintah Kota Mataram menggagas pertemuan dadakan dengan mengundang semua Camat-Lurah untuk bekerjasama mencegah perkembangan penyakit berbahaya tersebut.

Kepada seluruh Camat dan Lurah yang hadir, Eko menyampaikan komitmen Walikota dan Wakil Walikota Mataram dalam memberantas DBD sekaligus meminta para camat dan Lurah untuk proaktif, segera mengambil langkah mencegah penyebaran penyakit DBD secara lebih intensif. Mengerahkan seluruh upaya dan melibatkan pula masyarakat untuk ikut bergotong-royong dalam melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Hal tersebut sangat penting, agar rantai penularan penyakit mematikan ini dapat segera terputus. “Mulai Jumat, 15 April 2016, kita nyatakan perang terhadap jentik-jentik nyamuk. Setiap hari tanpa berhenti, sampai DBD dapat diberantas dari Kota Mataram”, tegasnya.

Seperti dijelaskan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram H. Usman Hadi, terdapat siklus lima tahunan untuk kasus DBD yang tergolong tinggi di Kota Mataram. Pada tahun 2010 kasus DBD sangat tinggi, namun tampaknya siklus berubah karena tahun 2016 ini justru banyak sekali warga Kota Mataram yang terjangkit virus DBD. Dari catatan yang dimiliki dinas yang dipimpinnya menurut Usman, terjadi sebanyak 412 kasus yang dilaporkan sepanjang tahun 2016 dan yang benar-benar dinyatakan sebagai DBD sejumlah 283 orang. Dari seluruh wilayah di Kota Mataram, hanya tiga kelurahan yang sampai saat ini belum muncul kasus DBD. Yaitu Kelurahan Ampenan Utara, Kelurahan Banjar, dan Klurahan Bintaro.

Dinas Kesehatan Kota Mataram lanjut Usman, sejak awal telah berupaya untuk memetakan kondisi real DBD di Kota Mataram. Dari laporan yang masuk, diketahui bahwa jumlah penderita tertinggi berada di rentang usia sekolah. Dan pemeriksaan jentik-jentik nyamuk di beberapa sekolah pun dinyatakan positif, sehingga pihaknya memutuskan untuk selain fogging di lingkungan-lingkungan yang terjadi kasus DBD, juga di semua sekolah yang ada di Kota Mataram pada setiap hari libur sekolah. “Semua sekolah sudah fogging. Dan mulai 9 Maret 2016 kami lakukan fogging lingkungan tidak hanya di lingkungan yang terjangkit kasus DBD tapi juga di lingkungan sekitarnya”, terangnya.

Meski telah dilakukan fogging diingatkan Usman, tidak berarti wilayah bersangkutan bebas DBD. Karena fogging hanya salah satu dari banyak upaya yang dapat dilakukan untuk mengurangi potensi penularan dengan cara membunuh nyamuk dewasa. Yang tidak kalah penting adalah PSN atau Pemberantasan Sarang Nyamuk yang akan ikut memusnahkan pula jentik-jentik nyamuk pembawa virus DBD. Dengan kegiatan PSN secara massal melibatkan semua pihak disemua wilayah, diharapkan kasus DBD di Kota Mataram dapat menurun secara drastis.

Sumber: Mataram News
(ufi-humas/editor guswan)